ULUMUL QURAN MATERI KE 3 ARTIB AYAT, TARTIB SURAT DAN MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN

 

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai petunjuk bagi manusia. Keistimewaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan ajarannya, tetapi juga pada struktur dan susunannya yang sangat sistematis. Susunan ayat dan surat dalam Al-Qur’an menunjukkan keserasian dan keteraturan yang luar biasa.

Para ulama sejak masa awal Islam telah memberikan perhatian besar terhadap susunan Al-Qur’an. Hal ini melahirkan berbagai cabang ilmu dalam kajian Ulumul Qur’an, di antaranya pembahasan mengenai tartib ayat, tartib surat, dan munasabah dalam Al-Qur’an.

Tartib ayat membahas tentang urutan ayat dalam setiap surat, sedangkan tartib surat membahas urutan surat dalam mushaf Al-Qur’an. Kedua kajian ini penting karena berkaitan dengan proses penulisan dan penyusunan Al-Qur’an sejak masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hingga masa kodifikasi mushaf pada masa khalifah.

Selain itu terdapat pula kajian munasabah, yaitu ilmu yang membahas hubungan antara ayat dengan ayat maupun antara surat dengan surat dalam Al-Qur’an. Kajian ini menunjukkan bahwa susunan Al-Qur’an memiliki kesatuan makna yang kuat.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

 

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.” (QS An-Nisa: 82)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keserasian makna dan tidak terdapat kontradiksi di dalamnya.


Oleh karena itu, memahami hubungan antara ayat dan surat dalam Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam memahami keindahan dan kemukjizatan Al-Qur’an.

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa pengertian tartib ayat dalam Al-Qur’an?

2.     Bagaimana proses penulisan wahyu pada masa Nabi?

3.     Bagaimana pendapat ulama tentang Tartib Ayat?

4.     Apa Hikmah dan Urgensi Tartib Ayat?

5.     Apa Hubungan Tartib Ayat dengan Kesatuan Tema Surat?

6.     Apa pengertian tartib surat dalam Al-Qur’an?

7.     Bagaimana pendapat ulama tentang Tartib Surat?

8.     Apa Hikmah Tartib Surat dalam Mushaf Al-Qur’an?

9.     Apa Perbedaan Tartib Mushaf dan Tartib Nuzul?

10.  Apa yang dimaksud dengan munasabah dalam Al-Qur’an?

11.  Apa urgensi kajian munasabah dalam Al-Qur’an?

12.  Apa saja bentuk munasabah dalam Al-Qur’an?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.     Menjelaskan pengertian Tartib Ayat.

2.     Menjelaskan proses penulisan wahyu pada masa Nabi.

3.     Menjelaskan pendapat ulama tentang Tartib Ayat.

4.     Menjelaskan Hikmah dan Urgensi Tartib Ayat.

5.     Menjelaskan Hubungan Tartib Ayat dengan Kesatuan Tema Surat.

6.     Menjelaskan pengertian Tartib Surat.

7.     Menjelaskan pendapat ulama tentang Tartib Surat.

8.     Menjelaskan Hikmah Tartib Surat dalam Mushaf Al-Qur’an.

9.     Menjelaskan Perbedaan Tartib Mushaf dan Tartib Nuzul.

10.  Menjelaskan konsep munasabah dalam Al-Qur’an.

11.  Menjelaskan urgensi kajian munasabah dalam Al-Qur’an.

12.  Menjelaskan bentuk-bentuk munasabah dan memberikan contoh-contohnya dalam Al-Qur’an.



A.    Tartib Ayat

 

1.     Pengertian Tartib Ayat

Secara bahasa, kata tartīb berarti menyusun atau menempatkan sesuatu secara teratur. Sedangkan ayat adalah bagian dari Qur'an yang merupakan kumpulan kata-kata yang memiliki makna tertentu dan menjadi bagian dari suatu surat.

Dengan demikian, tartib ayat adalah susunan atau penempatan ayat-ayat dalam suatu surat sebagaimana yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an.1

Dalam kajian Ulumul Qur’an, para ulama menjelaskan bahwa susunan ayat dalam setiap surat tidak disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu, melainkan berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap kali wahyu turun, Nabi memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menempatkan ayat tersebut pada posisi tertentu dalam suatu surat.2

Hal ini menunjukkan bahwa susunan ayat dalam Al-Qur’an bersifat tauqifi, yaitu ditetapkan berdasarkan wahyu dan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam salah satu kitab Ulumul Qur’an dijelaskan:

تَرْتِيبُ الْيَْاتِ فِي السُّوَرِ تَوْقِيفِيٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ

 

Artinya:

“Susunan ayat dalam surat-surat Al-Qur’an bersifat tauqifi menurut

kesepakatan kaum muslimin.”3

 

 

 


1 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 101-103.

2 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm. 60.

3 Badruddin Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma‘rifah), jilid 1, hlm 259.


2.     Proses Penulisan Wahyu pada Masa Nabi

Pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap kali wahyu turun, Nabi segera menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabat. Beberapa sahabat yang dikenal sebagai penulis wahyu antara lain Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Ubay bin Ka’ab.4

Para sahabat tersebut menuliskan wahyu di berbagai media seperti pelepah kurma, tulang, batu tipis, dan kulit binatang. Hal ini dilakukan karena pada masa tersebut belum tersedia kertas seperti yang digunakan pada masa sekarang.5

Ketika suatu ayat turun, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam suatu surat. Hal ini menunjukkan bahwa susunan ayat dalam Al-Qur’an telah ditentukan sejak masa Nabi.6

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa malaikat Jibril memberi petunjuk kepada Nabi tentang penempatan ayat dalam surat.

 

كَانَ جِبْرِيلُ يَقُولُ لِلنَّبِ 'يِ : ضَعْ هَذِهِ الْيَْةَ فِي مَوْضِعِ كَذَا مِنَ السُّورَةِ

 

Artinya:

 

“Jibril berkata kepada Nabi: letakkan ayat ini pada tempat tertentu dalam surat.”7

3.     Pendapat Ulama Tentang Tartib Ayat

Mayoritas ulama sepakat bahwa tartib ayat bersifat tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima wahyu dari Allah subhaanahu wa ta’ala.8


4 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 105.

5 Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 220.

6 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm. 62.

7 Badruddin Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma‘rifah), jilid 1, hlm. 256.

8 Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 230.


Pendapat ini diperkuat oleh praktik para sahabat yang tidak pernah mengubah susunan ayat ketika menuliskan Al-Qur’an, baik pada masa Nabi maupun setelah wafatnya Nabi.

Salah satu ulama Ulumul Qur’an menjelaskan bahwa:

 

تَرْتِيبُ الْيَْاتِ فِي السُّوَرِ تَوْقِيفِيٌّ بِلََ خِلََ ف

Artinya:

 

“Susunan ayat dalam surat bersifat tauqifi tanpa adanya perbedaan pendapat.”9

4.     Hikmah dan Urgensi Tartib Ayat

Menurut para ulama Ulumul Qur’an, susunan ayat dalam setiap surat memiliki hikmah yang sangat mendalam. Tartib ayat tidak hanya berfungsi sebagai susunan bacaan, tetapi juga sebagai sistematika penyampaian pesan wahyu. Dengan adanya tartib ayat, makna ayat dapat dipahami secara utuh karena antara satu ayat dengan ayat lainnya saling berkaitan dan melengkapi.

Selain itu, tartib ayat juga menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sesuai kebutuhan umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Walaupun demikian, ketika wahyu telah sempurna, susunan ayat disusun berdasarkan petunjuk wahyu sehingga membentuk struktur surat yang harmonis dan sistematis.10

5.     Hubungan Tartib Ayat dengan Kesatuan Tema Surat

Tartib ayat dalam suatu surat memiliki hubungan yang erat dengan kesatuan tema atau tujuan utama surat tersebut. Setiap ayat ditempatkan pada posisi tertentu untuk mendukung pesan pokok yang ingin disampaikan dalam surat. Oleh karena itu, pemindahan susunan ayat dapat menyebabkan perubahan pemahaman terhadap makna keseluruhan surat.

 

 


9 Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 230.

10 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 104-105.


Para ulama juga menegaskan bahwa tartib ayat membantu dalam memahami munasabah ayat, yaitu keterkaitan antara ayat sebelumnya dan sesudahnya. Dengan memahami hubungan ini, seorang pembaca Al-Qur’an dapat menangkap pesan wahyu secara lebih mendalam.11

B.    Tartib Surat

 

1.     Pengertian Tartib Surat

Selain susunan ayat, dalam Al-Qur’an juga terdapat susunan surat yang dikenal dengan istilah tartib surat. Tartib surat adalah urutan surat-surat dalam mushaf Al-Qur’an yang dimulai dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Nas.

Urutan surat dalam mushaf tidak sama dengan urutan turunnya wahyu. Sebagai contoh, wahyu pertama yang turun adalah surat Al-Alaq, namun dalam mushaf Al-Qur’an surat tersebut berada pada urutan ke-96.12

Hal ini menunjukkan bahwa susunan mushaf memiliki sistematika tersendiri yang ditetapkan dalam tradisi Islam.

2.     Pendapat Ulama Tentang Tartib Surat

Berbeda dengan tartib ayat, para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai susunan surat dalam mushaf Al-Qur’an.

a.     Pendapat Tauqifi

Sebagian ulama berpendapat bahwa susunan surat juga bersifat tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pendapat ini menyatakan bahwa Nabi telah menentukan urutan surat dalam mushaf sebagaimana yang dikenal saat ini.

b.    Pendapat Ijtihadi

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa susunan surat merupakan hasil ijtihad para sahabat, terutama ketika proses kodifikasi mushaf pada masa khalifah Utsman bin Affan. Pada masa tersebut, para

 


11 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 106-107.

12 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 110-112


sahabat mengumpulkan catatan Al-Qur’an yang tersebar dan menyusunnya menjadi satu mushaf standar yang dikenal sebagai Mushaf Utsmani.

c.     Pendapat Gabungan

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebagian susunan surat bersifat tauqifi dan sebagian lainnya merupakan hasil ijtihad para sahabat. Pendapat ini dianggap sebagai jalan tengah antara dua pendapat sebelumnya.13

3.     Hikmah Tartib Surat dalam Mushaf Al-Qur’an

Susunan surat dalam mushaf Al-Qur’an juga memiliki hikmah tertentu. Salah satu hikmahnya adalah memudahkan umat Islam dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an. Surat-surat panjang ditempatkan di bagian awal mushaf agar pembaca terbiasa terlebih dahulu dengan ayat-ayat yang panjang sebelum membaca surat-surat pendek.

Selain itu, tartib surat juga menunjukkan adanya tahapan dalam pembinaan keimanan umat Islam. Surat-surat Makkiyah yang banyak berbicara tentang akidah dan keimanan tersebar dalam mushaf, sementara surat-surat Madaniyah yang banyak membahas hukum dan sosial kemasyarakatan juga disusun sedemikian rupa untuk memberikan keseimbangan dalam pembelajaran ajaran Islam.14

4.     Perbedaan Tartib Mushaf dan Tartib Nuzul

Menurut Manna’ Al-Qattan, penting untuk membedakan antara tartib mushaf dan tartib nuzul. Tartib mushaf adalah susunan ayat dan surat sebagaimana yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an saat ini, sedangkan tartib nuzul adalah urutan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa susunan mushaf tidak semata-mata mengikuti kronologi sejarah turunnya wahyu, tetapi lebih menekankan

 

 

 


13 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm. 68-71.

14 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm.112-113.


pada kesempurnaan struktur ajaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam.15

C.    Munasabah dalam Al-Qur’an

 

1.     Pengertian Munasabah dalam Al-Qur’an

Secara etimologis, kata munāsabah berasal dari bahasa Arab nasaba–yunāsibu–munāsabatan yang berarti kesesuaian, kedekatan, atau hubungan antara dua hal yang memiliki keterkaitan. Dalam penggunaan bahasa Arab, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan adanya hubungan yang serasi antara dua perkara yang berbeda namun saling berkaitan.

Adapun secara terminologis dalam kajian Ulumul Qur’an, munasabah merujuk pada hubungan makna antara bagian-bagian Al-Qur’an, baik antara ayat dengan ayat, antara awal ayat dengan akhir ayat, antara ayat dengan surat, maupun antara satu surat dengan surat lainnya.

Menurut Badr al-Din al-Zarkashi, munasabah adalah:

 

“Ilmu yang membahas sebab-sebab keterkaitan antara bagian-bagian Al-Qur’an sehingga tampak keserasian susunan dan keindahan maknanya.”16

Sementara itu, Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa munasabah adalah:

“Hubungan antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat yang

menjadikan susunan Al-Qur’an terlihat sebagai satu kesatuan yang utuh.”17

 

Dengan demikian, munasabah menunjukkan bahwa susunan Al-

Qur’an memiliki hubungan makna yang sangat erat dan tidak bersifat

 

 

 

 


15 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 114-115.

16 Badruddin Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma‘rifah), jilid 1, hlm. 36.

17 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm.

108.


kebetulan. Hal ini juga menjadi salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi struktur dan komposisi wahyunya.

2.     Urgensi Kajian Munasabah dalam Al-Qur’an

Kajian munasabah memiliki beberapa urgensi penting dalam memahami Al-Qur’an, antara lain:

a.     Menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an

Hubungan yang sangat teratur antara ayat dan surat menunjukkan keindahan struktur Al-Qur’an yang tidak mungkin disusun secara manusiawi.

b.    Membantu memahami konteks ayat

Dengan memahami hubungan antara ayat sebelumnya dan sesudahnya, seorang mufassir dapat memahami maksud ayat secara lebih tepat.

c.     Menolak anggapan bahwa Al-Qur’an tidak sistematis

Sebagian orientalis pernah menganggap bahwa susunan Al-Qur’an tidak memiliki keteraturan tematik. Ilmu munasabah membuktikan bahwa setiap ayat memiliki hubungan yang logis dengan ayat lainnya.

d.    Membantu metode penafsiran Al-Qur’an

Munasabah sering  digunakan  dalam  metode  tafsir  tahlili

maupun maudhu‘i.

Menurut Manna' Al-Qattan, pemahaman terhadap munasabah membantu mufassir memahami pesan Al-Qur’an secara lebih komprehensif.18

3.     Macam-Macam Munasabah dalam Al-Qur’an

Para ulama menjelaskan bahwa munasabah memiliki beberapa bentuk, di antaranya:

a.     Munasabah antara ayat dengan ayat

 

 


18 Manna' al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah), hlm. 97.


Hubungan ini terjadi antara ayat yang satu dengan ayat berikutnya dalam satu surat.

Contoh:

Surat Al-Baqarah ayat 2:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang yang bertakwa.”

Ayat berikutnya menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang bertakwa, yaitu pada ayat 3–5 yang menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa.

Dengan demikian, ayat berikutnya merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya.

b.    Munasabah antara sebab dan akibat

Hubungan antara ayat yang menjelaskan sebab dengan ayat yang menjelaskan akibatnya.

Contoh:

Surat Al-Ma’un:

i.         Ayat awal menjelaskan orang yang mendustakan agama

 

ii.     Ayat berikutnya menjelaskan perilaku mereka, seperti tidak peduli kepada anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin.

 

c.     Munasabah antara perintah dan larangan

Contoh:

Surat Al-Isra ayat 23:

Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua.

Ayat setelahnya menjelaskan cara berbicara kepada orang tua dengan lembut, yang merupakan penjelasan praktis dari perintah tersebut.

d.    Munasabah antara awal dan akhir surat

Contoh:

Surat Al-Mu’minun:


i.     Awal surat menjelaskan ciri-ciri orang beriman

ii.     Akhir surat menjelaskan keberuntungan orang beriman di akhirat

Hal ini menunjukkan kesinambungan tema dalam satu surat.

e.     Munasabah antara satu surat dengan surat lainnya

Contoh:

i.     Hubungan antara surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah. Dalam Al-Fatihah terdapat do’a meminta petunjuk: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Kemudian pada awal Al-Baqarah dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang bertakwa.

ii.          Hubungan antara surat Al-Falaq dan An-Nas.

Kedua surat ini sama-sama berisi doa perlindungan kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Al-Falaq perlindungan dari bahaya eksternal.

An-Nas perlindungan dari godaan internal (bisikan setan).

Karena itu keduanya disebut Al-Mu‘awwidzatain.

iii.     Hubungan antara surat Ad-Dhuha dan Al-Insyirah. Kedua surat ini memiliki hubungan yang sangat erat.

Surat Ad-Dhuha berbicara tentang nikmat Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Surat Al-Insyirah menjelaskan kelapangan dada yang diberikan Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Nabi.

Banyak ulama menyebut kedua surat ini sebagai dua surat yang saling melengkapi maknanya.

iv.     Hubungan antara surat Al-Fil dan Quraisy. Hubungan kedua surat ini sangat jelas.

Surat Al-Fil menjelaskan kehancuran pasukan bergajah. Surat Quraisy menjelaskan nikmat keamanan bagi suku Quraisy.


Artinya kehancuran pasukan bergajah merupakan sebab keamanan yang dinikmati Quraisy.

A.    Kesimpulan

Tartib ayat dan tartib surat merupakan bagian penting dalam struktur Al-Qur’an. Tartib ayat bersifat tauqifi karena ditetapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan wahyu dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Sementara itu, munasabah merupakan ilmu yang membahas hubungan antara ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Kajian ini menunjukkan bahwa susunan Al-Qur’an memiliki keserasian makna yang sangat kuat.

Melalui kajian munasabah dapat diketahui bahwa Al-Qur’an memiliki kesatuan tema yang menunjukkan kemukjizatannya.

B.    Saran

Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, penulis menyadari bahwa

kajian mengenai Tartib Ayat dan Tartib Surat ataupun Munasabah dalam Al-Qur’an masih sangat luas dan membutuhkan pendalaman yang lebih lanjut. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar pembaca dapat terus mempelajari ilmu Ulumul Qur’an secara lebih mendalam melalui berbagai sumber yang terpercaya.

Selain itu, diharapkan umat Islam tidak hanya memahami Munasabah dalam Al-Qur’an secara teoritis, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an, diharapkan umat Islam dapat memperoleh petunjuk dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qattan, Manna’. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000.

As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004.

Az-Zarkasyi, Badruddin. Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1990.

Az-Zarqani, Muhammad Abdul Azim. Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Komentar

Postingan Populer