ULUMUL QURAN MATERI KE 4 KISAH DALAM AL-QUR’AN
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang
diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat
Jibril sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Isi kandungan yang
terdapat didalam Al- quran tidak hanya mencakup tentang aspek hukum dan aturan
saja, bahkan di dalam Al-Qur’an terdapat kisah-kisah yang menjadi acuan dan
pelajaran bagi siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pedoman
dalam kehidupan.
Kisah merupakan suatu metode
pembelajaran yang ternyata memiliki daya tarik tersendiri yang dapat menyentuh
perasaan dan kejiwaan serta daya pikir seseorang. Kisah memiliki fungsi
edukatif yang sangat berharga dalam suatu proses penanaman nilai-nilai ajaran
Islam. Islam menyadari sifat alamiah manusia yang menyenangi seni dan
keindahan. Sifat alamiah tersebut mampu memberikan pengalaman emosional
yang mendalam dan dapat menghilangkan kebosanan serta kejenuhan
dan menimbulkan kesan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, Islam menjadikan
kisah sebagai salah satu metode dalam sebuah pembelajaran.1
Suatu peristiwa yang berkaitan dengan
sebab dan akibat dapat menarik perhatian para pendengar. Apabila dalam
peristiwa tersebut terselip berbagai pesan dan pelajaran yang berkaitan dengan
berita orang terdahulu, rasa ingin tahu merupakan faktor paling kuat yang dapat
menanamkan kesan sebuah peristiwa kedalam hati seseorang.
Oleh karena itu, kajian mengenai kisah
dalam Al-Qur’an menjadi penting untuk dipahami agar umat Islam dapat mengetahui
kisah-kisah apa saja yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan nilai apa saja yang
terkandung di dalamnya, serta bagaimana Al-Qur’an akhirnya bisa dengan mudah
untuk di amalkan, dijadikan sumber pedoman
dalam kehidupan yang selalu efisien
dan selaras
![]()
1 Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos,
1997), hal.97
dijadikan pedoman
oleh umat Islam hingga akhir masa.
1.
Apa itu
Kisah dalam Al-Qur’an?
2.
Apa pengertian
Kisah menurut bahasa dan istilah?
3.
Apa perbedaan Kisah dan Sejarah
sejarah?
4.
Apa saja bentuk-bentuk pengungkapan Kisah?
5.
Apa Tujuan
Kisah dan pengulanganya dalam Al-Qur’an?
1.
Untuk mengetahui Kisah-kisah dalam Al-Qur’an.
2.
Untuk megetahui
pengertian kisah baik secara bahasa
mauoun istilah.
3.
Untuk mengetahui perbedaan
kisah dan sejarah.
4.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk pengungkapan kisah dalam Al-Qur’an.
5.
Untuk memahami
tujuan kisah dan pengulanganya dalam
Al-Qur’an.
Kisah
merupakan Suatu peristiwa yang berkaitan dengan
sebab dan akibat dapat menarik perhatian para pendengar. Apabila dalam peristiwa tersebut terselip berbagai pesan dan pelajaran yang berkaitan
dengan berita orang terdahulu, rasa ingin tahu merupakan faktor paling kuat
yang dapat menanamkan kesan sebuah peristiwa kedalam hati seseorang.2
Al-Quran al-Karim adalah risalah Allah
swt bagi seluruh umat manusia. Maka dari itu, kisah-kisah yang terkandung di
dalamnya tidak bisa disamakan dengan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab
maupun buku yang lain. Kisah- kisah al-Quran mempunyai karakteristik tersendiri
yang menggambarkan kandungan nilai tertinggi tanpa ada yang bisa menandinginya.3
Menyoroti kisah-kisah dalam Al-Qur’an umat Islam meyakini bahwa kisah-kisah
tersebut mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran dalam menjalani hidup.
semua kisah-kisah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sehingga kaum
mulismin menjadikan kisah dalam Al-Qur’an menjadi
sesuatu yg sangat penting untuk dijadikan sebagai ‘itibar, pelajaran dan pedoman. Segala kisah
yang diungkapkan dalam
Al- Qur’an merupakan renungan
bagi umat, dalam mengambil makna hidup yang sejati.
Peristiwa dan cerita yang berkaitan
dengan sebab-akibat selalu menarik untuk disimak. Terutama jika cerita-cerita
itu memiliki pelajaran yang sangat berharga. Keinginan kuat untuk mengetahui
dan mendengarkan suatu cerita adalah
salah satu faktor terkuat berpengaruhnya nilai-nilai positif cerita tersebut
bagi seseorang. Nasehat terkadang tidak bisa langsung meresap ke dalam hati,
tetapi jika esensi nasehat itu terbungkus dalam kisah nyata maka tujuan dan isi
nasehat akan lebih mudah diterima.
Dewasa ini bercerita merupakan salah
satu seni bahasa dan sastra. Padahal al-Quran telah mencontohkan hal ini semenjak
belasan abad yang lalu.
![]()
2 Mannaa„ Al-Qattaan, Mabahith fi ‘Uluum
al-Qur’aan (t.k.t.: Maktabah
Wahbah, 2000),hal.300.
3 Abudin nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, logos,1997),hal.102
Sebagaimana telah tertulis dalam al-Quran QS Yusuf : 3 ;
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ ٱلْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ َٰهَذَا ٱلْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلَْٰغَفِلِينَ
Artinya: Kami menceritakan kepadamu
kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan
sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang
yang belum mengetahui.4
Dalam makalah ini pemakalah akan
membahas beberapa persoalan yang berkenaan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan pengertian kisah,
perbedaanya dengan sejarah, macam-macam kisah/ bentuk-bentuk pengungkapan
kisah, serta tujuan kisah dan pengulanganya dalam Al-Qur’an. Sehingga bisa
difahami bagi umat manusia umum nya dan umat islam khususnya.
B. Pengertian Kisah (al-qoshosh)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
kisah berarti 'cerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang'. Sedangkan
cerita berarti 'tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu
peristiwa, kejadian, dsb'.5 Bisa dikatakan bahwa kisah merupakan
sinonim dari cerita. Yang kemudian kedua kata tersebut silih berganti digunakan
dalam tulisan ini.
Kata kisah diserap dari bahasa arab,
yaitu Al- qishshash (اْلِقَصص) = Kisah-kisah.
Dan kata qishshah berasal dari
qashsha-yaqushshu. Kata (ص ق - يقُّص) dalam bahasa Arab berasal
dari akar kata qaf-shad-shad (قصص Yang
mana kata ini merupakan akar dari kata yang tersusun dari huruf qaf, shad, dan
shad yang memiliki arti asal 'mengikuti sesuatu'. Dikatakan qishshah,
karena suatu kisah itu dicari untuk diingat dan diikuti. Demikian Ibnu Faris menjelaskan.6
Sedangkan ar-Raghib al-Ashfihani
mengartikan kata yang berakar dari qishshah
dengan 'mengikuti jejak'.4 Qishshah
juga dapat berarti 'berita yang bersifat kronologis', disampaikan tahap
demi tahap. Menurut Zahran di dalam Qashash
al-Quran, qishshah adalah menguraikan kejadian-kejadian dan menyampaikannya tahap demi tahap. Tujuan qishshah, kata Asy-Sya'rawi,
![]()
4 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya
(Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an,
2019), h. 235
5
Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi 1.1)
6 Ibnu faris, maqayis al lughah (ttp, ittihad al-kitab
al-arab:2002 ),hal.7
adalah untuk pelajaran dalam rangka memantapkan ide-ide
yang diamanatkan di dalam al-Quran.7 Kata qashsha dan akar-akarnya disebutkan di dalam al-Quran sebanyak 30
kali; diantaranya dalam kata kerja sebanyak 20 kali dan kata benda sebanyak enam kali.8
Jadi dapat disimpulkan bahwa Kisah dalam bahasa Arab secara
etimologi berasal dari kata qashsha-yaqushshu-qashashan (قص-يقص-قصصا) yang berarti menceritakan,
menuturkan, atau mengikuti jejak. Secara terminologi, ia merujuk pada qishshah (bentuk jamak: qashash) yaitu narasi peristiwa
masa lalu, kisah umat terdahulu, atau nubuwat kenabian yang diceritakan
secara berurutan.
Sedangkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah atau kejadian yang sudah terjadi pada masa
lampau yang benar adanya dan mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran
yang bertujuan sebagai pedoman dan pelajaran dalam menjalani hidup dan
kehidupan. semua kisah-kisah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya secara
ilmiah. Sehingga kaum mulismin menjadikan kisah dalam Al-Qur’an menjadi sesuatu yg sangat penting untuk dijadikan sebagai ‘itibar, pelajaran dan pedoman. Segala
kisah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an merupakan
renungan bagi umat, dalam mengambil makna hidup yang sejati.9
Kisah-kisah dalam Al-Qur'an (Qashashul
Qur'an) memuat sejarah para nabi, umat terdahulu, dan tokoh bijak, yang
bertujuan memberikan pelajaran (ibrah), memperkuat keimanan, dan menuntun
manusia pada kebenaran. Contohnya adalah kisah
Nabi Yusuf yang sabar, Nabi Musa melawan Firaun, serta kisah Ashabul Kahfi yang
mempertahankan iman.
·
Contoh kisah dalam Al-Qur'an beserta ayatnya:
1.
Kisah Nabi Yusuf AS (QS. Yusuf):
![]()
![]()
7
Husain bin Muhammad ar-Raghib al-Ashfihani, Mufradat al-Quran
(Beirut, Dar al-Ma'rifah;tt) Hal. 404
8
M. Quraish
dkk, Ensiklopedi al-Quran: kajian kosa kata ( Jakarta,
Lentera Hati; 2007) hal.765
9 Kisah-Kisah Dalam Al-Quran: Makna dan Hikmah" karya Prof. Dr. M. Quraish
Shihab, (Jakarta: Lentera
Hati;2013) hal 13.
![]()
Kisah tentang kesabaran, kejujuran, dan pemaafan. Yusuf dibuang saudaranya ke sumur, menjadi budak, difitnah, dipenjara, hingga akhirnya
menjadi menteri di Mesir dan memaafkan saudara-saudaranya
2. Kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi):
Kisah tujuh pemuda beriman yang tertidur di dalam gua selama 309 tahun
untuk menyelamatkan akidah dari raja yang zalim. kisah Ashabul
Kahfi adalah bukti nyata kekuasaan Allah SWT dalam
melindungi hamba yang teguh beriman dan bertawakal. Tujuh pemuda yang melarikan
diri dari raja zalim demi mempertahankan akidah ditidurkan selama 309 tahun di
dalam gua, mengajarkan tentang kebangkitan, keberanian melawan kesyirikan, dan
jaminan perlindungan Allah bagi mereka yang berhijrahKisah ini diabadikan dalam
Al-Qur'an surah Al- Kahfi sebagai pelajaran abadi bahwa siapa pun yang
bersungguh-sungguh mencari
keselamatan di jalan Allah, niscaya Allah akan menyelamatkannya.12
3.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun
(Surat Thaha):
![]()
10
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an,
2019) hlm. 235, QS. Yusuf (12): 4.
11
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an
dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), hlm. 293, QS.Toha
(18):10.
12
Ashabul Kahfi Kisah 7 Pemuda Beriman,
(Jakarta: pustaka Al- kautsar) hal.215
13
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an
dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), hlm. 293, QS. Toha
(18):9.
![]()
![]()
|
فَاَوْحَيْنَآ اَِٰلى مُوَْٰسٓى اَنِ اضْرِبْ بِ'عَصَاكَ الْبَحْ رَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْ „ق كَال طوْدِ الْعَظِيْ “مِ ٦٣ |
|
|
|
|
||
|
Maka, terbelahlah (laut
itu) dan setiap
belahan seperti gunung
yang sangat |
||
|
besar.” (Q.S Assyu’ara’:63)15 |
|
|
Kisah Nabi Musa melawan Firaun adalah pertarungan kebenaran melawan kezaliman,
di mana Nabi Musa diutus Allah untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan mengajak Firaun
menyembah Allah. Melalui
mukjizat tongkat menjadi ular dan tangan bercahaya, Nabi Musa
mengalahkan penyihir Firaun, namun Firaun tetap angkuh. Kisah ini berakhir
dengan tenggelamnya Firaun di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa yang membelah
lautan.16
Kisah Nabi Musa digambarkan sebagai
perjuangan melawan pemimpin zalim, di mana Allah menyelamatkannya dari upaya
pembunuhan oleh Firaun sejak kecil. Quraish Shihab menyoroti kisah Nabi Musa
dengan Khidir (Surat Al-Kahfi)
sebagai teguran atas "keakuan" atau rasa paling pandai, mengajar
bahwa ilmu manusia terbatas dan selalu ada ilmu Allah yang lebih tinggi.17
C. Perbedaan Kisah dan Sejarah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
kisah berarti 'cerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang'. Sedangkan
cerita berarti 'tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu
peristiwa, kejadian, dsb'.18 Bisa dikatakan bahwa kisah merupakan
sinonim dari cerita. Yang kemudian kedua kata tersebut silih berganti digunakan
dalam tulisan ini.
Sedangkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah atau kejadian yang sudah terkadi pada masa
lampau yang benar adanya dan mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran
yang bertujuan sebagai pedoman dan pelajaran dalam menjalani hidup
dan kehidupan. semua kisah-kisah yang
![]()
14
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an
dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), hlm. 294, QS. Toha
(18):43.
15
Kementerian Agama RI, Al-Qur'an
dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019), hlm.370, QS.
As-syu’ara’ (26):63
16
Quraisy Shihab,
Kisah-Kisah Dalam Al-Quran:
Makna dan Hikmah", (Jakarta: Lentera Hati.)
hal 135.
17
Ibid. Hal 136.
18 Kamus Besar Bahasa Indonesia
(versi 1.1)
diungkapkan dalam Al-Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sehingga kaum
mulismin menjadikan kisah dalam Al-Qur’an menjadi
sesuatu yg sangat penting untuk
dijadikan sebagai ‘itibar, pelajaran
dan pedoman. Segala kisah yang
diungkapkan dalam Al-Qur’an merupakan
renungan bagi umat, dalam mengambil makna hidup yang sejati.19
Sedangkan kisah Sejarah adalah
“Pengertian sejarah secara etimologi berasal dari kata Arab syajarah artinya
“pohon”. Dalam bahasa Inggris peristilahan sejarah disebut history yang berarti
pengetahuan tentang gejala- gejala alam, khususnya manusia yang bersifat
kronologis. Sementara itu, pengetahuan serupa
yang tidak kronologis diistilahkan dengan
science.”20 Oleh
karena itu dapat dipahami bahwa sejarah itu adalah aktivitas manusia yang
berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu yang tersusun secara kronologis.
Pengertian sejarah juga berarti ilmu pengetahuan yang berikhtiar untuk
melukiskan atau menjelaskan fenomena kehidupan sepanjang terjadinya perubahan
karena adanya hubungan antara manusia
terhadap masyarakatnya.21
Pengertian sejarah lainnya adalah yang tersusun dari serangkaian peristiwa masa
lampau keseluruhan pengalaman manusia.22
Dari beberapa pengertian sejarah di atas dapat diketahui bahwa sejarah itu
adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
melukiskan tentang peristiwa masa lampau umat manusia yang disusun secara
kronologis untuk menjadi pelajaran bagi manusia yang hidup sekarang maupun yang
akan datang. Itulah sebabnya, dikatakan orang bahwa sejarah adalah guru yang
paling bijaksana.
Jadi dapat disimpulkan perbedaan
diantara keduanya adalah, Kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an berfokus pada hikmah,
akidah, dan pelajaran moral (pedoman
hidup) yang absolut benarnya, dan bisa dibuktikan secara ilmiah, Sebagai
wahyu yang membawa pesan tauhid, edukasi, dan petunjuk (hidayah) bagi manusia.
Kisah Al-Qur'an sering kali diulang untuk penguatan pesan, tidak terikat
waktu-tempat, dan merupakan
![]()
19
Quraisy Shihab,
Kisah-Kisah Dalam Al-Quran:
Makna dan Hikmah". (Jakarta: Lentera Hati;2013) hal 13
20
T. Ibrahim
Alfian dkk., Bunga
Rampai Metode Penelitian Sejarah (Yogyakarta: Lembaga
Riset IAIN Sunan Kalijaga,
1984), h. 3
21
Nourouzzaman Shiddiqi,
Pengantar Sejarah Muslim
(Yogyakarta: Cakra Donya. 1981), h. 7.
22
Siti Maryam,
dkk., Sejarah Peradaban
Islam: Dari Masa Klasik Hingga
Modern
c. 3. (Yogyakarta: LESFI, 2009), h. 4.
wahyu, bukan sekadar narasi sedangkan sejarah umum berfokus
pada kronologi, data empiris, dan fakta historis yang sistematis. Menekankan
pada detail tahun, tempat, tokoh, dan kronologi kejadian secara mendetail.
Umumnya sejarah menghindari pengulangan yang tidak perlu untuk efisiensi cerita.
D.
Bentuk-bentuk Pengungkapan Kisah
Menurut Manna' al-Qaththan bentuk-bentuk pengungkapan kisah dalam al- Quran sebagai berikut:23
1. Kisah para
nabi
Cakupan macam kisah yang pertama ini meliputi dakwah para
nabi terhadap kaum mereka, mukjizat mereka yang diberikan oleh Allah swt
sebagai penguat kenabian dan tahapan dakwah serta perkembangannya. Cerita
pembangkangan suatu kaum terhadap nabi mereka serta akibatnya masuk dalam macam
kisah yang pertama ini. Seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yusuf, Nabi Isa, Nabi
Muhammad, dan nabi serta rasul as yang lainnya.
2. Kisah-kisah qurani
Tentang peristiwa masa lampau atau personal dan kalangan
tertentu. Seperti kisah kaum berjumlah ribuan yang meninggalkan kampung halaman
mereka karena takut mati, Jalut dan Thalut, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun,
Ashabus sabt, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil, dll.
3. Kisah kejadian
yang terjadi pada zaman Nabi saw
Seperti perang badar, uhud sebagaimana dalam surah Ali
Imran, perang Hunain, Tabuk dalam surah at-Taubah, perang Ahzab dalam surah
Ahzab, Hijrah, Isra', dll.
Sedangkan Said 'Athiyyah dalam kitabnya al-I'jaaz al-Qashashi fi al- Quran membagi bentuk-bentuk pengungkapan kisah di dalam al-Quran menjadi
![]()
23 Manna' bin Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Quran
(ttp, maktabah al-Ma'arif ; 2000) hal. 317
sebagai berikut:24
a)
Kisah sejarah
Yaitu kisah sejarah yang nyata dan disebutkan tempat,
pelaku dan kejadiannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa catatan sejarah
mengenai pelaku, tempat dll. bukanlah tujuan dari cerita. Melainkan tujuan dari
cerita itu ialah mengambil manfaat dan pelajaran. Meskipun pelajaran itu bisa
dipetik tanpa disebutkan tempat ataupun waktunya.25 Seperti kisah
Dzulqarnain QS al-Kahfi :83-98. Kisah ini menceritakan tentang seseorang yang
telah diberikan kekuasaan di bumi. Bukan mengisahkan kepribadian Dzulqarnain
atau siapa sebenarnya dia. Karena hal ini jauh dari hikmah yang bisa diambil.
Macam kisah ini banyak di dalam al- Quran.
b)
Kisah nyata (realita)
Yakni kisah yang dituturkan sebagai model atau contoh
realita bagi kehidupan manusia. Baik bagi pelaku kisah tersebut ataupun bagi
orang yang mencontohnya. Seperti kisah kedua putra Nabi Adam as, QS al-
Maidah:27-31. Kisah ini menjadi contoh realita bagi kejahatan dan kriminalitas
yang terjadi di tengah masyarakat.
c) Kisah perumpamaan
Yaitu kisah yang tidak mempunyai keserupaan dengan kejadian
nyata, akan tetapi kemungkinan besar akan terjadi pada siapapun dan kapanpun.
Seperti kisah dua sahabat, salah seorang diantara keduanya memiliki dua kebun,
QS al-Kahfi : 32-44. Kisah ini menjadi perumpamaan bagi dua sahabat, yang satu
kaya raya, dzhalim, sombong, dan kufur nikmat. Sedangkan yang lain mulya karena
keimanannya, banyak bersyukur, dan selalu ingat pada Allah awt.
d) Kisah berkenaan dengan perasaan (emosional)
Al-Quran telah bercerita tentang cinta. Cerita itu sebagai
bungkus dari nasehat-nasehat al-Quran dan juga untuk menumbuhkan ide untuk mulai
![]()
24 Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal.
43
25
Sayid Quthb,
Fi Dzhilal al-Quran (mawqi' at-Tafasir/http://www.altafsir.com)
mempelajari tingkah laku serta emosi manusia. Seperti kisah
Nabi Yusuf dan istri pejabat di Mesir, QS Yusuf:23-34.
e) Kisah simbolik
Kisah simbolik ini bisa digambarkan dari kisah bersujudnya
malaikat kepada Adam sebagai lambang kesediaan malaikat memberi bimbingan ke
hati manusia dan memeliharanya sesuai perintah Allah swt. Sedangkan keengganan iblis sebagai
pertanda bahwa kejahatan tidak mungkin akan sirna sama sekali, dan bahwa manusia
harus terus menerus berjuang menghadapi kejahatan.26 Kisah turunnya
Nabi Adam as ke bumi bukan hanya memiliki makna turun ke
bumi saja. Akan tetapi juga memiliki isyarat makna dan simbol menurunnya tingkat
permulaan nafsu tabiat manusia kepada merasa mempunyai nafsu yang bebas dan
bisa untuk ragu dan bermaksiat.27 Dan juga seperti kisah Nabi Adam
dan istrinya ketika diganggu iblis, QS Thaha:120.
Menurut hemat penulis, bentuk-benruk
kisah yang dikemukakan oleh Manna' al-Qaththan itu dilihat dari segi tokoh dan
setting waktu suatu kisah. Sedangkan klasifikasi Sa'id Athiyyah lebih cenderung
dilihat dari sudut pandang bentuk cerita.
E.
Tujuan Kisah dan Rahasia
Pengulanganya dalam Al-Qur’an
a.
Tujuan Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah di dalam al-Qur’an tentunya
memilki beberapa tujua
dan faedah diantaranya :
1) Menjelaskan asas-asas
dakwah menuju Allah
swt dan menjelaskan pokok-pokok syariat yang dibawa para Nabi.
![]()
26 Sayid Quthb,
Fi Dzhilal al-Quran (mawqi' at-Tafasir/http://www.altafsir.com)
27
Said Athiyyah,
al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran
(Kairo, Dar al-Aafaq
al-Arabiyyah ; 2006) hal. 43
2) Meneguhkan
hati Rasulullah saw dan hati para umatnya atas agama Allah serta memperkuat
keyakinan mukmin akan kemenangan yang diraih kebenaran dan para pembelanya
serta hancurnya kebathilan dan para pengikutnya.
3) Membenarkan
para nabi terdahulu serta menghidupkan kenangan atas mereka dan mengabadikan
jejak peninggalannya.
4) Menampilkan
kebenaran risalah Rasulullah saw sesuai dengan yang diberitakannya tentang hal
ihkwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
5) Menyingkap
kebohongan ahli kitab dengan cara membeberkan keterangan yang semula mereka
sembunyikan, kemudian menantang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka
sendiri yang masih asli sebelum kitab itu diubah dan diganti, misalnya firman
Allah swt pada Surah Ali Imran ayat 93.
6) Berkesan
dalam hati, menarik perhatian dan jiwa serta mudah dalam mengingatnya sebagai
pelajaran dalam mengarungi kehidupan.
![]()
![]()
7) Menjelaskan hukum yang terkandung dalam kisah al-Quran.28
8) Menggambarkan keadilan
Allah swt dengan menindak orang yang
mendustakan Nabi saw.29
9) Menggambarkan anugerah
Allah swt dengan memberi pahala bagi
orang yang beriman.30
10) Menghibur Nabi Muhammad atas gangguan yang diterima dari orang
![]()
28
QS al-Qamar
; 4-5. Lihat. Al-Qashshash fi al-Quran al-Karim. (Maktabah asy-Syamela)
29
QS Hud ; 101
30 QS al-Qamar
; 34-35
yang mendustakannya.31
11) Anjuran
bagi orang yang beriman agar keimanan mereka semakin mantab dan bertambah. Hal
ini bisa diketahui dengan keselamatan dan kemenangan orang yang mendahuluinya
dari golongan mukminin.32
12) Ancaman
bagi orang kafir agar tidak terus menerus dalam kekufurannya.33
13) Menetapkan
kerasulan Nabi saw. Karena cerita umat-umat terdahulu tidak ada yang
mengetahuinya selain Allah swt.34
Dalam al-Mu'jam al-Maudlhu'i li Ayaat al-Quran al-Karim disebutkan
beberapa kisah yang termuat dalam al-Quran dan jumlahnya hampir 50-an. jumlah
itu tidak pasti, bisa jadi lebih dari itu. Dan tidak sedikit ulama yang menulis
sebuah karya khusus memuat kisah-kisah dalam al-Quran. Penulis hanya menyebutkan segelintir, diantaranya
yaitu;
ü Qashash al-Hayawaan fi al-Quran karya M Mutawalli asy-Sya'rawi
ü Qashash al-Quran karya Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi
ü Qashash al-Quran al-Karim
karya Sa'id Muhammad
al-Lahhaam
ü Shahih Qashash al-Quran
karya Hamid Ahmad ath-Thahir al-Basyuni
ü Al-Qashash al-Qurani wa 'Atha'u
asy-Syabaab karya Muhammad
Adib Shalih
b. Rahasia Pengulangan kisah dalam
Al-Quran.
Al-Quran banyak mengandung kisah-kisah
yang diungkapkan secara berulangkali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang
berulang kali disebutkan dan dikemukakan dalam bentuk yang berbeda antara
tempat satu yang dengan tempat yang
lain. Terkadang ada bagian bagian dari kisah didahulukan, sedangkan di tempat
lain diakhirkan. Terkadang secara ringkas dan terkadang pula secara panjang
lebar, dan sebagainya. Diantara hikmahnya adalah:
![]()
31
QS Fathir
; 25
32 QS al-Anbiya' ; 88
33 QS Muhammad
; 10
34 QS Hud ; 49, QS Ibrahim ; 9
Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Quran dalam tingkat yang paling tinggi. Diantara
keistimewaan balaghah (sastra) adalah
mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai bentuk yang berbeda. Dan kisah yang
berulang itu dikemukakan dengan uslub (gaya
bahasa) yang berbeda di setiap tempat sehingga tidak membuat orang merasa
bosan, bahkan dapat menambah makna-makna baru
yang tidak ditemukan di tempat lain.
1) Menunjukkan
kemukjizatan Al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk
susunan kalimat yang salah satu bentuk saja tidak ada yang bisa menandingi.
2) Pemantapan
nilai kandungan sebuah kisah. Terkadang sebuah kisah dipaparkan secara
panjang lebar agar lebih mantap dan berkesan dalam jiwa.
3) Setiap
kisah memiliki maksud yang berbeda. Pengulangan kisah diperlukan sesuai dangan
kondisi dan tuntutan keadaan.
Menyoroti kisah-kisah dalam Al-Qur’an umat Islam meyakini bahwa kisah-kisah
tersebut mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran dalam menjalani hidup.
semua kisah-kisah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sehingga kaum
mulismin menjadikan kisah dalam Al-Qur’an menjadi
sesuatu yg sangat penting untuk dijadikan sebagai ‘itibar, pelajaran dan pedoman. Segala kisah
yang diungkapkan dalam
Al- Qur’an merupakan renungan
bagi umat, dalam mengambil makna hidup yang sejati.
Sedangkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah atau kejadian yang sudah terjadi pada masa lampau yang benar adanya dan mengandung nilai- nilai filosofis dan pelajaran yang bertujuan sebagai pedoman dan pelajaran dalam menjalani hidup dan kehidupan. semua kisah-kisah yang diungkapkan dalam Al- Qur’an bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sehingga kaum mulismin menjadikan kisah dalam Al-Qur’an menjadi sesuatu yg sangat penting untuk dijadikan sebagai ‘itibar, pelajaran dan pedoman. Segala kisah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an merupakan renungan bagi umat, dalam mengambil makna hidup yang sejati. Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, penulis menyadari bahwa kajian mengenai sejarah Al-Qur’an masih sangat luas dan membutuhkan pendalaman yang lebih lanjut. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar pembaca dapat terus mempelajari ilmu Ulumul Qur’an secara lebih mendalam melalui berbagai sumber yang terpercaya.
Selain
itu, diharapkan umat Islam tidak
hanya memahami sejarah
Al-Qur’an secara teoritis, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai
pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,
diharapkan umat Islam dapat memperoleh petunjuk dan kebahagiaan baik di dunia
maupun di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyan
fi Ulum al-Qur’an. Karachi:
Maktabah al-Busyra, 2010.
Az-Zarqani, Muhammad
Abdul Azim. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an.
Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995.
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein. At-Tafsir wal Mufassirun. Juz 1. Kairo: Dar al- Hadits, 2005.
Denffer, Ahmad von. Ulum al-Qur’an: An Introduction to the Sciences
of the Qur’an. Leicester:
The Islamic Foundation, 1994.
Latif, Abdul. “Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum Utama.” Hukum dan Keadilan
4, no. 1
(2017): 62–74.
Mandzur, Ibnu. Lisan al-Arab. Jilid XII. Beirut:
Daru as-Shadir, 1990.
Qattan,
Manna’ Khalil al-. Mabahits fi ‘Ulum
al-Qur’an. Beirut: Muassasah ar- Risalah, 2000.
Shihab, M. Quraish. Mukjizat Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1997.
Shalih,
Subhi as-. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an.
Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1988. Quraisy Shihab, Kisah-Kisah Dalam
Al-Quran: Makna dan Hikmah". (Jakarta: Lentera Hati;2013) hal 13.
Suyuthi, Jalaluddin as-. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr, 2004. Widiarti,
Sindy, dan Khairul Fahmi. “Jejak Wahyu: Sejarah Proses Pengumpulan
Ayat Al-Qur’an Hingga Menjadi Mushaf.” Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies (IJOMSS) 1,
no. 2 (2023): 40–45.
Zuhaili, Wahbah az-. Tafsir al-Munir. Damaskus:
Dar al-Fikr, 2009.
Komentar
Posting Komentar