ULUMUL QURAN MATERI KE 5 I’JAZ Al-QURAN
I’JAZ Al-QURAN
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia. Selain berfungsi sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an juga dipandang sebagai mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ , yang keistimewaannya tidak dapat ditandingi oleh manusia hingga akhir zaman. Mukjizat Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan ajarannya, tetapi juga pada aspek bahasa, susunan kalimat, kedalaman makna, serta berita-berita ghaib yang dikandungnya. Oleh karena itu, kajian mengenai kemukjizatan Al-Qur’an (I‘jāz al-Qur’an) menjadi salah satu topik penting dalam disiplin ilmu Ulumul Qur’an.1
Dalam perspektif ulama klasik, konsep I‘jāz al-Qur’an dipahami sebagai ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur’an, baik dari segi bahasa maupun kandungan maknanya. Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa kemukjizatan Al- Qur’an merupakan bukti kebenaran kerasulan Nabi Muhammad ﷺ karena manusia tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an meskipun telah ditantang untuk melakukannya.2 Hal ini sejalan dengan pandangan Al- Baqillani yang menegaskan bahwa keistimewaan Al-Qur’an terletak pada susunan bahasanya yang berada di luar kebiasaan gaya bahasa manusia, sehingga mustahil bagi manusia untuk menandinginya.3
Kajian mengenai I‘jāz al-Qur’an memiliki signifikansi yang sangat penting dalam studi Ulumul Qur’an, baik dari segi teologis maupun akademik. Secara teologis, pemahaman terhadap kemukjizatan Al-Qur’an dapat memperkuat
1 Jalal al-Din al-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), hlm. 116.
2 Badr al-Din al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz 2 (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1957), hlm.
90
3 Abu Bakr al-Baqillani, I‘jaz al-Qur’an (Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1954), hlm. 35.
keyakinan umat Islam terhadap kebenaran wahyu ilahi. Sedangkan dari sisi akademik, kajian ini memberikan kontribusi dalam memahami keindahan bahasa Al-Qur’an, struktur retorika, serta kandungan ilmiah yang terdapat di dalamnya. Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan modern, kajian tentang I‘jāz al- Qur’an juga terus berkembang, terutama dalam bidang linguistik, sastra Arab, dan studi tafsir.4
Selain itu, para ulama juga menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada aspek bahasa (I‘jāz Lughawi), tetapi juga mencakup berbagai dimensi lainnya seperti kemukjizatan ilmiah (I‘jāz ‘Ilmi), kemukjizatan dalam penggambaran retoris (I‘jāz Taṣwīri), serta kemukjizatan dalam berita ghaib (I‘jāz Ghaibi). Berbagai dimensi tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang tidak dapat ditandingi oleh karya manusia. Oleh karena itu, kajian mengenai I‘jāz al-Qur’an menjadi salah satu tema penting yang terus dikaji dalam studi Ulumul Qur’an, baik oleh ulama klasik maupun sarjana modern.5
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa kajian mengenai I‘jāz al-Qur’an memiliki posisi yang sangat penting dalam memahami keistimewaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ . Oleh karena itu, penelitian mengenai konsep, signifikansi, serta berbagai aspek kemukjizatan Al- Qur’an perlu dilakukan secara lebih mendalam agar dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai kedudukan Al-Qur’an dalam perspektif Ulumul Qur’an.
B. Rumusan Masalah
4 Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1998), hlm. 256.
5 Mustansir Mir, “The Qur’an as Literature,” Journal of Qur’anic Studies, Vol. 5, No. 1 (2003), hlm. 49
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan I‘jāz al-Qur’an?
2. Apa signifikansi atau pentingnya kajian I‘jāz al-Qur’an dalam studi Ulumul Qur’an?
3. Apa saja sisi-sisi kemukjizatan Al-Qur’an?
4. Apa hikmah dari kemukjizatan Al-Qur’an?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian I‘jāz al-Qur’an.
2. Menjelaskan signifikansi kajian I‘jāz al-Qur’an dalam studi Ulumul Qur’an.
3. Menganalisis berbagai sisi kemukjizatan Al-Qur’an.
4. Menjelaskan hikmah dari kemukjizatan Al-Qur’an.
BAB II
KAJIAN TEORI TENTANG I‘JĀZ AL-QUR’AN
A. Pengertian I‘jāz al-Qur’an
1. Definisi I‘jāz al-Qur’an Secara Bahasa
Secara etimologis, istilah اُْْآِ َِْاُberasal dari kata اََُْyang berarti ketidakmampuan atau kelemahan. Dalam bentuk kata kerja, istilah ini berasal dari kata َِْاُا – ََُُ – ََُْyang bermakna membuat seseorang tidak mampu melakukan sesuatu. Dengan demikian, secara bahasa istilah I‘jāz al-Qur’an menunjukkan keadaan di mana manusia tidak mampu menandingi atau menyamai Al-Qur’an.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, konsep ini merujuk pada keistimewaan Al- Qur’an yang menjadikannya tidak dapat ditandingi oleh manusia baik dari segi bahasa, kandungan makna, maupun susunan retorikanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ulumul Qur’an bahwa kemukjizatan Al-Qur’an merupakan salah satu bukti kebenaran wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.6
2. Definisi I‘jāz al-Qur’an Secara Istilah
Secara terminologis, para ulama memberikan definisi yang relatif serupa mengenai konsep I‘jāz al-Qur’an. Al-Zarkasyi dalam kitab اُْْآِ ْلوم في اْبْهاِ menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an merupakan bukti kebenaran kerasulan Nabi Muhammad ﷺ karena manusia tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya.
Ia menyatakan:
6 Shubhi al-Shalih, Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn), hlm. 256.
Artinya:
“Ketahuilah bahwa kemukjizatan Al-Qur’an bermakna menampakkan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dalam klaim kerasulannya melalui ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur’an.”7
Definisi tersebut menunjukkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan keindahan bahasa, tetapi juga berkaitan dengan bukti kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Pandangan yang hampir serupa juga dikemukakan oleh Abu Bakar al- Baqillani dalam kitab اُْْآِ َِْاُ, yang menjelaskan bahwa keistimewaan Al- Qur’an terletak pada struktur bahasanya yang berada di luar kebiasaan bahasa manusia.
I
Artinya:
“Al-Qur’an disebut mukjizat karena susunan dan komposisi bahasanya keluar dari kebiasaan gaya bahasa Arab, sehingga mereka tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya.”8
7 Badr al-Din al-Zarkasyi, Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Juz 2 (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1957), hlm. 90.
8 Abu Bakr al-Baqillani, I‘jāz al-Qur’ān (Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1954), hlm. 35.
Definisi ini menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada aspek bahasa dan retorika yang tidak dapat ditandingi oleh manusia, bahkan oleh bangsa Arab yang dikenal memiliki kemampuan bahasa yang sangat tinggi.
3. Pandangan Ulama Klasik tentang I‘jāz al-Qur’an
Para ulama klasik memberikan perhatian besar terhadap kajian I‘jāz al- Qur’an karena tema ini berkaitan langsung dengan bukti kenabian Nabi Muhammad ﷺ.
Menurut Abdul Qahir al-Jurjani dalam kitab الَْاُ الئل, kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada susunan kalimat dan keterkaitan makna antar kata dalam struktur bahasa Al-Qur’an yang sangat sempurna.
Artinya:
“Kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada susunan bahasanya dan penataan maknanya dengan cara yang tidak mampu ditandingi oleh manusia.”9
Pendapat ini kemudian menjadi dasar bagi teori اُْْآني اْنظمyang banyak dikaji dalam studi balaghah Al-Qur’an.
Selain itu, Jalal al-Din al-Suyuthi dalam kitab اُْْآِ ْلوم في التُاِ menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an mencakup berbagai aspek, seperti keindahan bahasa, kedalaman makna, serta berita-berita ghaib yang terkandung di dalamnya.10
9 Abdul Qahir al-Jurjani, Dalā’il al-I‘jāz (Kairo: Dar al-Ma‘arif), hlm. 52.
10 Jalal al-Din al-Suyuthi, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Juz 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), hlm. 116.
Pandangan para ulama tersebut menunjukkan bahwa konsep I‘jāz al-Qur’an tidak hanya dipahami dari satu aspek saja, tetapi meliputi berbagai dimensi yang menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi.
B. Signifikansi I‘jāz al-Qur’an
1. Kedudukan Al-Qur’an sebagai Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ
Dalam tradisi Islam, mukjizat merupakan tanda yang diberikan Allah kepada para nabi sebagai bukti kebenaran risalah mereka. Berbeda dengan mukjizat para nabi sebelumnya yang bersifat temporer, mukjizat Nabi Muhammad ﷺ berupa Al-Qur’an bersifat abadi dan tetap dapat disaksikan hingga saat ini.
Hal ini karena kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada peristiwa tertentu, tetapi juga pada struktur bahasa, kandungan ajaran, serta keindahan retorika yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadi mukjizat yang terus relevan sepanjang zaman.11
2. Peran Kajian I‘jāz dalam Penguatan Keimanan
Kajian tentang kemukjizatan Al-Qur’an memiliki peran penting dalam memperkuat keyakinan umat Islam terhadap kebenaran wahyu ilahi. Dengan memahami keistimewaan Al-Qur’an, seseorang dapat melihat bahwa kitab suci tersebut tidak mungkin merupakan karya manusia.
Menurut Manna’ al-Qattan, pemahaman terhadap kemukjizatan Al-Qur’an dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan serta meningkatkan penghargaan terhadap keagungan Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.12
11 Muhammad Husain al-Dzahabi, Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn (Kairo: Maktabah Wahbah), hlm.
245.
12 Manna’ Khalil al-Qattan, Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Kairo: Maktabah Wahbah), hlm. 256.
3. Relevansi Kajian I‘jāz dalam Studi Ulumul Qur’an
Dalam kajian akademik, konsep I‘jāz al-Qur’an juga memiliki relevansi yang sangat penting dalam pengembangan studi Ulumul Qur’an. Kajian ini berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu seperti balaghah, tafsir, linguistik Arab, serta studi sastra Al-Qur’an.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, kajian tentang kemukjizatan Al-Qur’an juga semakin berkembang, khususnya dalam bidang linguistik dan studi sastra Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa konsep I‘jāz al- Qur’an tidak hanya relevan dalam konteks teologis, tetapi juga dalam konteks akademik dan ilmiah.13
13 Mustansir Mir, “The Qur’an as Literature,” Journal of Qur’anic Studies, Vol. 5 No. 1 (2003), hlm. 49.
BAB III
SISI-SISI KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN
Para ulama Ulumul Qur’an menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada satu aspek tertentu, tetapi mencakup berbagai dimensi yang saling berkaitan. Kemukjizatan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang tidak dapat ditandingi oleh manusia, baik dari segi bahasa, kandungan makna, maupun informasi yang disampaikannya.
Imam Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai aspek yang menunjukkan kesempurnaan wahyu tersebut.
Artinya:
“Segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an sangat banyak, di antaranya balaghahnya, kefasihannya, pemberitaannya tentang hal-hal ghaib, serta kandungannya yang penuh dengan hikmah yang mendalam.”14
Dalam kajian Ulumul Qur’an, para ulama umumnya membagi kemukjizatan Al-Qur’an ke dalam beberapa aspek utama, antara lain:
1. I‘jāz Lughawiyyah (kemukjizatan bahasa)
2. I‘jāz ‘Ilmiyyah (kemukjizatan ilmiah)
3. I‘jāz Taṣwīriyyah (kemukjizatan penggambaran)
4. I‘jāz Ghaibiyyah (kemukjizatan berita ghaib)
14 Badr al-Din al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Juz 2 (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1957), hlm. 92.
A. I‘jāz Lughawiyyah (Kemukjizatan Bahasa)
Kemukjizatan bahasa merupakan aspek paling utama dalam kajian I‘jāz al- Qur’an. Para ulama sepakat bahwa Al-Qur’an memiliki tingkat balaghah dan kefasihan yang sangat tinggi sehingga tidak dapat ditandingi oleh manusia.
Abdul Qahir al-Jurjani menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada sistem susunan bahasa yang dikenal dengan istilah اْنظم.
Ia mengatakan:
Artinya:
“Ketahuilah bahwa letak kemukjizatan Al-Qur’an berada pada susunan dan komposisi bahasanya serta penataan kata-katanya dengan cara yang tidak mampu dilakukan oleh manusia.”15
Bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an dikenal sebagai masyarakat yang sangat menguasai sastra dan retorika bahasa Arab. Namun ketika Al-Qur’an diturunkan, mereka tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an.
15 Abdul Qahir al-Jurjani, Dalā’il al-I‘jaz (Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1984), hlm. 52.
“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya sekalipun mereka saling membantu.”16
Ayat ini menunjukkan bahwa kemukjizatan bahasa Al-Qur’an bersifat universal dan tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.
B. I‘jāz ‘Ilmiyyah (Kemukjizatan Ilmiah)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an juga mengandung isyarat ilmiah yang baru dapat dipahami secara lebih jelas setelah perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Salah satu contoh ayat yang sering dikaji dalam konteks ini adalah ayat tentang perkembangan embrio manusia.
Allah berfirman:
Terjemahan:
“Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, kemudian segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.”17
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tahapan perkembangan embrio manusia yang baru dapat dipahami secara lebih jelas melalui ilmu embriologi modern.
16 Al-Qur’an, Surah Al-Isra: 88.
17 Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun: 14.
Manna’ al-Qattan menjelaskan bahwa ayat-ayat seperti ini menunjukkan keluasan kandungan Al-Qur’an yang tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai fenomena alam.18
C. I‘jāz Taṣwīriyyah (Kemukjizatan Penggambaran)
Al-Qur’an memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menggambarkan suatu peristiwa secara retoris. Para ulama menyebut aspek ini sebagai I‘jāz Taṣwīriyyah, yaitu kemukjizatan dalam penggambaran bahasa.
Salah satu contoh penggambaran yang sangat kuat terdapat dalam ayat tentang hari kiamat:
Terjemahan:
“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.”19
Ayat-ayat ini menggambarkan kedahsyatan hari kiamat dengan bahasa yang sangat kuat sehingga pembaca dapat merasakan suasana tersebut secara visual.
18 Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahith fi Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm.
256.
19 Al-Qur’an, Surah At-Takwir: 1–3.
Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kemampuan unik dalam menciptakan gambaran visual melalui bahasa yang sangat hidup sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat.20
D. I‘jāz Ghaibiyyah (Kemukjizatan Berita Ghaib)
Salah satu aspek penting dari kemukjizatan Al-Qur’an adalah pemberitaannya tentang hal-hal ghaib yang tidak mungkin diketahui manusia melalui pengalaman empiris.
Contohnya adalah berita tentang kemenangan bangsa Romawi atas Persia.
Komentar
Posting Komentar